Minggu, 16 Agustus 2009

Perubahan Core Business

Perubahan Core Business dan

Organisasi Perusahaan

Oleh: Kosasih Ano

Istilah perubahan (change/transformation) dalam manajemen perubahan saat ini sudah menjadi istilah yang umum dalam menghadapi segala tantangan yang datang dari luar ataupun dalam organisasi itu sendiri, karena perubahan tersebut kebanyakan sudah terjadi. Sebagaimana banyak diungkap dalam buku-buku manajemen bahwa “Dalam dunia yang selalu berubah, satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri”.

Secara umum, saat ini organisasi atau perusahaan menghadapi lingkungan dinamis dan terus berubah, yang selanjutnya menuntut agar organisasi tersebut menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Upaya perubahan besar-besaran telah banyak membantu sebagian organisasi untuk beradaptasi secara signifikan terhadap kondisi-kondisi yang selalu berubah tersebut, dimana telah banyak meningkatkan daya saing terhadap perusahaan lainnya, dan telah dapat menempatkan sebagian organisasi untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik. Kalau tidak dilakukan perubahan, maka organisasi atau perusahaan akan lenyap tergilas sebagai akibat ketidakmampuan dalam menyikapi lingkungan bisnis yang semakin kompetitif.

Stephen P. Robbins & Timothy S. Judge (2008:384) menyatakan dalam pro kontra mengenai perubahan organisasi bahwa :

Para manajer masa kini senantiasa menghadapi perubahan yang mendekati kekacauan, mereka terpaksa menjalankan permainan yang tidak pernah mereka mainkan sebelumnya yang diatur dengan ketentuan yang diciptakan tepat pada saat permainan berjalan.

Artinya, para manajer yang mengelola perusahaannya tidak pernah merasakan ketenangan dalam menjalankan organisasi atau perusahaannya, karena banyak ditemukan tantangan dan kendala yang belum terpikirkan dan tidak diharapkan sebelumnya yang harus dijalani dan dihadapi.

Faktor Pendorong Perubahan Organisasi

Banyak hal yang mendorong munculnya kebutuhan untuk melakukan perubahan. Pakar perilaku di dalam perusahaan, Robert Kreitner dan Angelo Kinicki (2003:4) dalam bukunya Organizational Behavior, menyatakan bahwa ada 2 kekuatan yang dapat mendorong munculnya kebutuhan untuk melakukan perubahan di dalam perusahaan, yaitu :

1). Kekuatan eksternal, yaitu kekuatan yang muncul dari luar perusahaan, seperti : karakteristik demografis (usia, pendidikan, tingkat ketrampilan, jenis kelamin, imigrasi, dsbnya), perkembangan teknologi, perubahan-perubahan di pasar, tekanan-tekanan sosial dan politik.

2). Kekuatan internal, yaitu kekuatan yang muncul dari dalam perusahaan, seperti : masalah-masalah/prospek Sumber Daya Manusia (kebutuhan yang tidak terpenuhi, ketidak-puasan kerja, produktivitas, motivasi kerja, dsb-nya), perilaku dan keputusan manajemen.

Stephen P. Robbins & Timothy S. Judge (2008:339) mengemukakan kekuatan-kekuatan pendorong perubahan adalah sebagai berikut :

1). Persaingan, dalam hal ini pesaing-pesaing organisasi dapat datang dari arah mana saja dan dalam bentuk apapun. Tensi persaingan yang tinggi juga berarti organisasi harus bisa bertahan. Adapun organisasi yang dapat bertahan dalam persaingan ini adalah organisasi yang dapat berubah dan menanggapi/ menjawab tantangan-tantangan yang dihadapinya. Organisasi dapat dengan tangkas melakukan inovasi secara kreatif, fleksibel, adaptif, dan sensitif terhadap lingkungannya.

2). Kejutan ekonomi, kondisi perekonomian yang berubah-ubah dan tidak dapat diprediksikan seperti yang terjadi dewasa ini sewaktu-waktu akan dapat mengejutkan dunia usaha. Kejutan ekonomi ini wujudnya seperti anjloknya harga minyak dunia, kenaikan BBM, kelangkaan bahan pokok, dan jatuhnya nilai mata uang. Kejadian seperti ini akan memaksa suatu organisasi untuk berubah secara adaptif agar dapat menyesuaikan diri dengan keadaan pemangkasan jumlah tenaga kerja, penjadwalan ulang pembayaran utang, dan restrukturisasi organisasi dapat dilakukan untuk menghadapi persoalan ini.

3). Teknologi, merupakan hal yang harus selalu diikuti oleh organisasi dalam rangka mengatasi persaingan. Perubahan teknologi harus dapat dijawab oleh organisasi untuk dapat terus mensejajarkan diri dalam persaingan. Jika tidak, maka akan dapat menghambat kinerja organisasi. Teknologi merupakan salah satu pendukung utama dalam meningkatkan produktivitas organisasi.

4). Kecenderungan sosial, perubahan keadaan sosial suatu tempat akan berimbas pada budaya masyarakat, hal ini akan terus berlangsung seiring perkembangan zaman. Salah satu dampaknya adalah akan mempengaruhi kebijakan-kebijakan menyangkut ketenagakerjaan yang merupakan bagian krusial dalam pengelolaan organisasi.

5). Politik, suatu organisasi harus dapat menyesuaikan diri dengan perubahan keadaan politik dimana organisasi berada. Dengan demikian terhadap perubahan politik ini memaksa organisasi untuk berubah.

Perubahan Core Business

Perubahan bisnis inti (core business) suatu perusahaan telah banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang terancam akan kebangkrutan akibat dari adanya perubahan globalisasi yang menimpanya, atau karena adanya perubahan konsumennya. Apabila mengharapkan usahanya tetap eksis, maka perusahaan tersebut harus mempertajam bidang usaha intinya kembali agar mampu bersaing. Istilah perubahan core business dalam tulisan ini adalah perubahan atau beralihnya kegiatan baik sebagian maupun seluruhnya bidang usaha inti atau pokok. Seperti yang dialami oleh PT. INTI yang semula memproduksi peralatan telekomunikasi dengan cara membuat sendiri, akan tetapi sekarang membeli peralatan dari pihak lain dan merekayasa (engineering) sebelum diserahkan kepada konsumen.

Dalam kamus bahasa Inggris John M. Echols & Hassan Shadily (2002:148) menyatakan bahwa Core adalah inti. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Balai Pustaka (2001:439) bahwa inti atau utama adalah yang terpenting atau pokok. Sedangkan business atau bisnis adalah bidang usaha. Jadi perubahan core business adalah perubahan terhadap bidang usaha atau bisnis pokok. Misalnya, yang dialami oleh PT. INTI dari semula pokok bisnisnya adalah manufaktur (manufacture) menjadi jasa teknik (service engineering) dan perdagangan (trading).

“Bisnis inti atau pokok'' dari suatu organisasi adalah suatu upaya untuk membangun usaha yang ideal yang diharapkan, yang merupakan aktivitas atau kegiatan organisasi "yang utama" atau "penting".

Berikut ini dua contoh perusahaan yang telah melakukan perubahan terhadap core business kemudian bisa eksis sebagai perusahaan yang maju yaitu :

1). PT. Rekayasa Industri yang merupakan salah satu perusahaan BUMN di Indonesia yang semula core business-nya adalah dalam bidang usaha pupuk beralih ke bisnis baru menjadi pembangkit listrik panas bumi yang sebelumnya dikuasai oleh kontraktor asing, sehingga menguasai pasar Biodiesel di Indonesia dan menguasai pasar pembangunan pabrik Bioethanol, serta mulai mendominasi pembangunan kilang minyak di Indonesia dan mulai membangun pembangkit listrik skala raksasa 600 MW di Indonesia sejak tahun 2004 (Triharyo Indrawan Soesilo, bahan presentasi, November 2007).

2). Saat ini kita mengenal Nokia sebagai salah satu raksasa di industri telekomunikasi dunia dimana produk-produk telepon seluler mereka sangat laku di pasaran. Awalnya inti bisnisnya adalah bisnis pengolahan kayu dan kertas (forestry) kemudian berubah sangat jauh menjadi bisnis telekomunikasi. Di Asia pasifik termasuk Indonesia, perusahaan asal Finlandia ini masih menjadi pemimpin pasar saat ini. Sebelumnya tak ada yang menyangka Nokia akan bisa menyaingi raksasa-raksasa telekomunikasi seperti Ericsson, Siemens dan Motorola bila kita menengok kiprah awal Nokia yang merupakan perusahaan forestry. Bisnis pengolahan kayu dan kertas tentu jauh berbeda dengan telekomunikasi. Perubahan yang dialami Nokia cukup besar karena menyangkut perubahan core business (Majalah Portal edisi 40, July 2007).

Karena itu, betapa pentingnya suatu perusahaan atau organisasi untuk mempertahankan kelangsungan bisnis atau usahanya dimasa datang sehingga perlu membenahi dan menyesuaikan dengan kondisi konsumen yang menjadi pasar utamanya dengan harus melakukan perubahan terhadap bisnis pokoknya (core business).

Dari uraian ini mudah-mudahan dapat menambah wawasan bagi kita warga PT. INTI bahwa perubahan itu bukan sesuatu yang perlu ditakuti dan belajar dari perusahaan lain yang mempunyai pengalaman yang pernah berubah haluan bisnis secara drastis tidak perlu tabu, dan menata kembali bisnis pokok (Core Business) adalah suatu ide yang maju dalam keadaan yang seperti sekarang yang dihadapi oleh PT. INTI.

Source: Media Reputasi INTI edisi 14/2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar