Pilar Rejim dan Kinerja Ekonomi
A. Ringkasan Eksekutif
Ekonomi Berbasis Pengetahuan (EBP) adalah perekonomian yang berbasis pada produksi, distribusi dan pemanfaatan knowledge/teknologi sebagai penggerak utama dalam pertumbuhan dan penciptaan kemakmuran ekonomi. EBP suatu negara dicerminkan dalam Knowledge Economy Index (KEI) dari empat pilar utama EBP, yang terdiri dari Rejim dan Kinerja Ekonomi, Inovasi, Pendidikan, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
KEI Indonesia berdasarkan data World Bank tahun 2008 adalah sebesar 3,23, kontribusi pilar rejim dan kinerja ekonomi terhadap KEI sebesar 3,36; inovasi 3,32; pendidikan 3,42; dan kontribusi pilar TIK sebesar 2,82. Hal ini menunjukkan bahwa pilar TIK nilainya masih di bawah nilai KEI. Oleh karenanya, pilar tersebut perlu ditingkatkan untuk mendorong KEI Indonesia.
A.1. Pilar Rejim dan Kinerja Ekonomi
Rejim dan Kinerja Ekonomi Indonesia dibandingkan dengan negara-negara ASEAN secara umum masih menunjukkan kinerja yang belum baik. Hampir seluruh indikator dari pilar ini menunjukkan posisi yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya seperti : Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam.
Dari 25 variabel Rejim dan Kinerja Ekonomi, beberapa variabel menunjukkan posisi yang cukup baik diraih oleh Indonesia. Variabel tersebut adalah GDP, dimana posisi Indonesia lebih baik dari negara-negara ASEAN lainnya.
Beberapa variabel lain, posisi Indonesia berada pada peringkat yang kurang baik. Bahkan berdasarkan data yang ada posisinya lebih rendah dibandingkan negara-negara ASEAN. Indikator tersebut antara lain :
- Pertumbuhan pengangguran pada tahun 2004 dimana Indonesia menempati ranking tertinggi dari negara-negara ASEAN seperti : Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam.
- Indeks pembangunan manusia pada tahun 2005 menempati posisi terendah dibandingkan dengan Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam.
- Indeks kemiskinan menempati posisi tertinggi dibandingkan dengan Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam.
- Pembentukan Modal Kotor (Gross Capital Formation) sebagai % dari GDP pada periode tahun 1995 sampai dengan tahun 2005, Indonesia pada posisi terendah dari negara-negara ASEAN lainnya.
- Perdagangan sebagai % dari GDP pada tahun 2006, Indonesia terendah diantara negara ASEAN lainnya.
- Ekspor barang dan jasa sebagai % dari GDP pada tahun 2006, Indonesia menempati posisi terendah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya.
- Biaya pendaftaran bisnis sebagai % dari GNI (Gross National Income atau Pendapatan Nasional Kotor) per Kapita pada tahun 2006, Indonesia menempati ranking tertinggi. Sebagai perbandingan, Singapura mempunyai angka 0,8, sedangkan Indonesia 86,7.
- Jumlah hari untuk memulai sebuah bisnis pada tahun 2008, Indonesia menempati urutan tertinggi (105 hari), sedangkan Singapura hanya 5 hari.
- Biaya yang diperlukan untuk melakukan klaim dalam pelaksanaan kontrak (Cost to Enforce a Contract) yang dinyatakan sebagai persentase dari nilai klaim pada tahun 2006 menunjukkan di Indonesia relatif tinggi (126,5%).
A.2. Pilar Sistem Inovasi
Kinerja Sistem Inovasi Indonesia dibandingkan dengan negara-negara ASEAN secara umum masih menunjukkan kinerja yang belum baik. Hampir seluruh indikator kinerja sistem inovasi menunjukkan posisi yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Dari 20 indikator kinerja variabel Sistem Inovasi hanya beberapa variabel yang posisi Indonesia lebih baik dari beberapa negara ASEAN, antara lain, Penerimaan Fee Royalti dan Lisensi (peringkat ke 2 setelah Singapura). Berdasarkan data yang ada, beberapa indikator lainnya posisinya lebih rendah dibandingkan Vietnam, indikator tersebut antara lain :
- Jumlah peneliti di litbang per juta orang penduduk.
- Total belanja litbang sebagai % dari GDP.
- Perdagangan manufaktur sebagai % dari GDP.
- Artikel pada jurnal sains dan teknik.
A.3. Pilar Pendidikan
Indikator variabel Pendidikan Indonesia dibandingkan dengan negara-negara ASEAN secara umum masih menunjukkan kinerja yang belum baik. Hampir seluruh indikator kinerja Sistem Pendidikan menunjukkan posisi yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN. Bahkan untuk hal tertentu lebih rendah dari negara Vietnam. Variabel tersebut adalah Tingkat Pendidikan Menengah (tahun 2006), Harapan Hidup pada Kelahiran (tahun 2005).
A.4. Pilar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
Kinerja Sistem Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia dibandingkan dengan negara-negara ASEAN secara umum masih menunjukkan kinerja yang belum baik. Hampir seluruh indikator kinerja sistem TIK menunjukkan posisi yang lebih rendah dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN, posisi terendah tersebut antara lain :
- Jumlah Koran (Harian) yang diterbitkan paling sedikit empat kali dalam seminggu per 1.000 orang pada tahun 2000 adalah 23.
- Internasional Internet Bandwith (bits per orang) pada tahun 2005.
- Belanja TIK sebagai % dari GDP pada tahun 2006.
Sebagai perbandingan, Malaysia memiliki KEI sebesar 6,06. Kontribusi pilar rejim dan kinerja ekonomi KEI adalah 6,18; inovasi 6,83; pendidikan 4,14; dan kontribusi pilar TIK 7,08. Data ini menunjukkan bahwa pilar rejim dan kinerja ekonomi, pilar inovasi dan pilar TIK sangat menonjol di Malaysia. Untuk dapat menyamai Malaysia maka Indonesia secara rata-rata harus ditingkatkan 2 kali dari masing-masing pilar.
B. Ekonomi Berbasis Pengetahuan Menurut Knowledge Assessment Methodology (KAM)
World Bank Institute telah mengembangkan suatu metodologi yang dikenal dengan knowledge assessment methodology (KAM), metode ini digunakan untuk melakukan patok banding (benchmarking) suatu negara terhadap negara lain, melihat kekuatan dan kelemahan dalam pelaksanaan transisi ke EBP, juga untuk mengetahui fokus suatu negara dalam mewujudkan EBP.
Analisis dan pembahasan yang akan disampaikan pada buku ini didasarkan pada sistematika KAM yang terdiri dari 89 variabel dimana 78 buah variabel berbasis kepada 4 pilar dari EBP, 6 variabel pengaturan (governance), serta 5 variabel gender. Ketujuh puluh delapan buah variabel yang berbasis kepada 4 buah pilar EBP, dapat dijabarkan sebagai berikut :
- Variabel yang berkaitan dengan kinerja ekonomi berjumlah 11 buah, sedangkan yang berkaitan dengan rejim ekonomi berjumlah 14. Variabel-variabel ini menampilkan kinerja bagi pemanfaatan pengetahuan yang telah ada dan pengetahuan yang baru secara efisien serta kemajuan kewirausahaan
- Variabel yang berkaitan dengan Sumber Daya Manusia yang terdidik, kreatif, dan berketerampilan berjumlah 15 buah. Variabel-variabel ini memberi informasi tentang SDM terdidik yang dapat menjadi pencipta, penyebar, dan pemakai ilmu pengetahuan dengan baik.
- Variabel tentang sarana prasarana (sarpras) informasi yang dinamis berjumlah 13 buah, Variabel-variabel ini memfasilitasi komunikasi, diseminasi, dan pemrosesan informasi.
- Variabel tentang sistem inovasi yang efisien berjumlah 24 buah. Variabel-variabel ini berisi tentang perusahaan, lembaga riset, universitas, konsultan dan organisasi lain yang dapat menjangkau sumber ilmu pengetahuan global, mengasimilasi dan menyesuaikan dengan kondisi lokal serta menciptakan ilmu pengetahuan baru.
Selain itu, ada beberapa indikator yang ditambahkan pada pilar-piliar tersebut. Pada kinerja ekonomi, variabel yang ditambahkan adalah Perubahan Partisipasi Tenaga Kerja, Konsumsi Listrik. Pada rejim ekonomi, variabel yang ditambahkan adalah Ekspor dan Impor Barang dan Jasa sebagai % dari GDP dan Posisi Kredit Rupiah Bank Umum Menurut Kelompok Bank. Pada sistem inovasi, variabel yang ditambahkan adalah Nilai tambah Industri sebagai % dari GDP, Nilai Tambah Manufaktur sebagai % dari GDP dan Nilai Tambah Jasa sebagai % dari GDP. Pada pendidikan, variabel yang ditambahkan adalah Jumlah Mahasiswa Terdaftar di Universitas dan Tingkat Penyelesaian Pendidikan Dasar.
B.1. Kinerja dan Rejim Ekonomi
Pemanfaatan dan penggunaan ilmu pengetahuan global secara efisien bergantung pada economic incentive regime dari suatu negara. Lingkungan yang kompetitif akan mendorong perusahaan-perusahaan dan individu untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan menghasilkan barang atau jasa secara efisien. Di bawah suatu rejim yang tidak mendorong persaingan, maka tidak akan ada tekanan untuk menemukan cara yang lebih efisien dalam menghasilkan atau menemukan barang dan jasa yang lebih baik.
Penciptaan lingkungan yang kompetitif dapat mendorong perusahaan-perusahaan menjadi lebih efisien, hal ini akan mempengaruhi difusi pengetahuan. Lingkungan seperti ini sangat dipengaruhi oleh tatanan institusi dalam suatu rejim ekonomi yang dapat memudahkan atau menghambat alokasi modal keuangan dan fisik serta tenaga kerja, dari penggunaan yang tidak efisien menjadi efisien. Oleh karena itu, lingkungan yang kompetitif merupakan elemen kunci untuk membuat ekonomi mencari cara untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih baik.
B.2. Pendidikan dan Sumberdaya Manusia
Pendidikan adalah kunci untuk menciptakan, memperoleh, mengadaptasi, mendiseminasi, dan menggunakan ilmu pengetahuan. Adanya orang-orang yang berpendidikan dan berketerampilan dalam suatu negara dapat menciptakan, membagi, dan menggunakan ilmu pengetahuan dengan baik. Orang-orang tersebut merupakan elemen yang paling penting untuk memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan baru serta perubahan teknis yang cepat. Anggaran pada bidang pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan dikelola dengan efisien, serta penduduk yang cerdas dan berketerampilan, diperlukan untuk mencapai ekonomi berbasis ilmu pengetahuan.
B.3. Teknologi Informasi dan Komunikasi
Kemajuan yang pesat dari teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mempengaruhi kegiatan ekonomi dan sosial. Kemajuan tersebut berdampak positif pada cara mengelola dan menjalankan perusahaan ataupun pemerintah. Akses yang meningkat terhadap TIK juga mempengaruhi cara orang bekerja, belajar, dan berkomunikasi.
Hal positif yang didapatkan dengan memanfaatkan TIK:
- mengurangi biaya transaksi
- mengurangi kendala waktu dan ruang
- melakukan produksi masal dari barang dan jasa yang customized
- menggantikan faktor produksi lainnya seperti kapital, tenaga kerja, material atau bahan baku.
Berbagai hal positif dapat dicapai karena ilmu pengetahuan menjadi elemen dalam TIK dan hal tersebut menyebabkan daya saing menjadi hal yang penting. Karena dampak penggunaan TIK sangat signifikan dan karena TIK bergantung pada network, interconnectivity, interdependency, dan coordination yang efisien, maka TIK menjadi infrastruktur yang penting untuk ekonomi berbasis pengetahuan.
B.4. Sistem Inovasi
Ada tiga komponen penting dalam sistem inovasi, yaitu lembaga riset, universitas, dan industri. Keberadaan institusi-institusi ini secara fisik saja tidak cukup, tetapi yang lebih penting adalah sampai sejauh mana mereka dapat memanfaatkan, mengasimilasikan dan mengadaptasikan ilmu pengetahuan ditingkat yang terus berkembang untuk kebutuhan lokal, serta dapat menciptakan teknologi baru. Oleh karena itu, jaringan kerja dan interaksi antara ketiga komponen sistem inovasi tersebut sangat penting dalam ekonomi berbasis pengetahuan.
| |||||||||||||||||||||||||||||













Tidak ada komentar:
Posting Komentar